Wanita Dan Mawar Berduri
Mawar adalah wanita, sedangkan duri
pada mawar adalah aturan yang melekat
dari Allah bagi seorang wanita.
Banyak orang mengatakan aturan yang
Allah buat untuk wanita,
mengekang,sulit jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan.
Padahal seperti duri pada mawar justru
aturan itu yang melindungi, menjaga
dan membuat seorang wanita mulia.
Seperti duri yang jadi penyempurna
mawar. Maka aturan Tuhan yang menjadi
penyempurna wanita. Dan jika mawar
berduri adalah mawar sempurna.
Pastinya, wanita dengan aturan yang
melekat dari Tuhannya pula wanita
yang sempurna. Seorang wanita sempurna seperti mawar
berduri di tepi jurang .
Bukan mawar di tengah taman. Jika
mawar ada di tengah taman cenderung
semua tangan bisa memetiknya, dari
orang biasa hingga orang kurang ngajar
yang nekat memetik walaupun ada
tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap
berani memetik toh dibawah tulisan
larangan itu hanya tertulis ancaman
“denda sekian puluh ribu rupiah atau
kurungan sekian bulan”.
Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya.
Maka wanita, tumbuhlah di tepi jurang.
Hingga tak sembarang tangan lelaki
bisa mencolekmu. Hingga jikapun suatu
saat ada seorang lelaki memetikmu.
Pastilah lelaki yang paling berani
berkorban untukmu.
Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang
lelaki. Karena wanita bukanlah barang
murah yang boleh disentuh seenaknya.
bukan barang hiasan yang bisa dipetik
dengan ancaman kecil.
Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi
seorang lelaki berani. Seorang wanita
dengan aturan dan “keterasingan” lah
yang menarik minat lelaki peradaban.
Tapi bagi lelaki pecundang, tentu
mengambil mawar tak berduri di tengah
taman lebih diinginkan. “lebih sedikit
resiko” begitu kata mereka yang kalah.
Lalu terserah anda para wanita,
Apakah anda berharap tangan pemberani atau hanya tangan para
pecundang yang menyentuh Anda.
Jadi silahkan saja pilih?
Disaat hidayah Allah berikan, setelah
seorang wanita berkata ingin menjadi
mawar sempurna di tepi jurang. Dengan langkah awal menutup sempurna aurat,
sesaat setelah mendengar kisah tadi.
Subhanallah, jaga kami semua dalam
hidayahMu ya Rabb,..
diambil dari buku “Dua Hati Yang
Berlayar” (Liebe publishing,2007)
karangan Tony Raharjo
Seperti duri yang jadi penyempurna
mawar. Maka aturan Tuhan yang menjadi
penyempurna wanita. Dan jika mawar
berduri adalah mawar sempurna.
Pastinya, wanita dengan aturan yang
melekat dari Tuhannya pula wanita
yang sempurna. Seorang wanita sempurna seperti mawar
berduri di tepi jurang .
Bukan mawar di tengah taman. Jika
mawar ada di tengah taman cenderung
semua tangan bisa memetiknya, dari
orang biasa hingga orang kurang ngajar
yang nekat memetik walaupun ada
tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap
berani memetik toh dibawah tulisan
larangan itu hanya tertulis ancaman
“denda sekian puluh ribu rupiah atau
kurungan sekian bulan”.
Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya.
Maka wanita, tumbuhlah di tepi jurang.
Hingga tak sembarang tangan lelaki
bisa mencolekmu. Hingga jikapun suatu
saat ada seorang lelaki memetikmu.
Pastilah lelaki yang paling berani
berkorban untukmu.
Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang
lelaki. Karena wanita bukanlah barang
murah yang boleh disentuh seenaknya.
bukan barang hiasan yang bisa dipetik
dengan ancaman kecil.
Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi
seorang lelaki berani. Seorang wanita
dengan aturan dan “keterasingan” lah
yang menarik minat lelaki peradaban.
Tapi bagi lelaki pecundang, tentu
mengambil mawar tak berduri di tengah
taman lebih diinginkan. “lebih sedikit
resiko” begitu kata mereka yang kalah.
Lalu terserah anda para wanita,
Apakah anda berharap tangan pemberani atau hanya tangan para
pecundang yang menyentuh Anda.
Jadi silahkan saja pilih?
Disaat hidayah Allah berikan, setelah
seorang wanita berkata ingin menjadi
mawar sempurna di tepi jurang. Dengan langkah awal menutup sempurna aurat,
sesaat setelah mendengar kisah tadi.
Subhanallah, jaga kami semua dalam
hidayahMu ya Rabb,..
diambil dari buku “Dua Hati Yang
Berlayar” (Liebe publishing,2007)
karangan Tony Raharjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar